Isu reshuffle kabinet santer menguat kembali jelang Ramadhan 2026, perombakan cabinet kali ini, semestinya tidak dibaca sebagai tanda kepanikan, ketidakstabilan, atau upaya uji mekanik.
Justru harusnya, reshuffle ketiga ini harus optimis dimaknai sebagai fase konsolidasi akhir pemerintahan Prabowo-Gibran. Sudah saatnya pemerintahan tidak lagi mencari bentuk, melainkan memastikan seluruh mesin-mesin bekerja maksimal hingga akhir masa jabatan.
Sehingga penyesuaian besar di tahun 2026 ini, bukan lagi fase adaptasi, yang berarti keterlambatan. Pemerintahan harusnya sudah melewati masa transisi. Tahun ini adalah fase pembuktian, karena rakyat tidak lagi menunggu janji, tetapi sedang menagih hasil.
