
Berita tentang anak yang memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli alat tulis-dan tidak sanggup menanggung rasa malu-adalah tamparan moral bagi kita semua.
Tragedi semacam ini bukan sekadar kisah kemiskinan ekonomi, melainkan potret kemiskinan makna, relasi, dan harapan di tengah masyarakat kita yang dikenal sangat religius.
Kita pun tersentak, mengapa anak-anak di Bawah 17 tahun bisa melakukan bunuh diri. Secara rasional, hal ini tidak masuk akal, dan dalam budaya nusantara belum sangat langka kejadian semacam ini.












