![[Akal Manusia Kian Luruh, Benarkah? Peneliti Temukan Hubungan Antara Gadget dan Penurunan Kebiasaan Berpikir]](https://beritapusat.co.id/wp-content/uploads/2026/03/featured_1772941513494.jpg)
Dunia hari ini sedang terobsesi pada segala hal yang diawali dengan kata “pintar”. Ponsel pintar ( Smartphone ), kota pintar ( Smart City ), hingga puncaknya pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Di balik kemudahan yang ditawarkan, terselip sebuah ironi yang mendasar. Ketika mesin semakin menyerupai manusia dalam kemampuan kognisinya, muncul pertanyaan eksistensial yang mengusik, apakah akal manusia sedang berevolusi, atau justru sedang mengalami peluruhan menuju sekadar replika?
Apa yang disebut sebagai “kecerdasan” pada mesin sebenarnya adalah sebuah akal imitasi. Ia bekerja berdasarkan statistik, probabilitas, dan tumpukan data masa lalu. Ia piawai menyusun kata, melukis gambar, hingga merumuskan kode pemrograman dalam hitungan detik. Namun, di balik kecepatan itu, ia hampa. Ia tidak memiliki kesadaran ( consciousness ), tidak merasakan kegelisahan, dan tidak punya tanggung jawab moral atas apa yang dihasilkannya.
Tetapi, meskipun watak dasarnya terdeteksi demikian, beberapa kasus dialog manusia dengan chat-JBT, sebagai gambaran dialog manusia dengan mesin, tidak sedikit yang mengakui akan manfaatnya hingga hal-hal yang bersifat psikologis. Misalnya ada seorang teman yang merasa “nyaman” curhat dengan chat-JBT karena ia tidak menghakimi atas perasaan-perasaannya.










