
Latar Belakang
Di balik langit mendung dan udara dingin yang bertiup dari lereng Ijen, Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 2 Banyuwangi menjadi tempat harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bangunan yang dulu berfungsi sebagai Balai Diklat PNS kini menjadi ruang belajar yang sederhana namun penuh makna. Jarak 15 kilometer dari pusat kota tidak menyurutkan semangat para siswa yang bersekolah di sini, merasakan suasana tenang dan asri yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Fakta Penting
Di ruang kelas sederhana, empat murid duduk setengah melingkar, tertarik dengan penjelasan Pak Sarjono, guru yang setiap Jumat datang memberikan bimbingan agama Hindu. Ini adalah contoh nyata toleransi beragama yang dijunjung tinggi di SRT 2 Banyuwangi. Melalui pendidikan yang merangkul berbagai latar belakang, sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membangun karakter dan mewujudkan mimpi Enik, seperti yang ditonjolkan dalam judul “Sekolah Rakyat Jadi Ruang Toleransi Beragama yang Menguatkan Mimpi Enik.”
Dampak
Sekolah ini memberikan bukti kuat bahwa pendidikan yang berbasis toleransi dan inklusif dapat menjadi kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan menggabungkan pendidikan agama dengan kurikulum umum, SRT 2 Banyuwangi menunjukkan bahwa diversitas bukanlah hambatan, melainkan aset yang dapat ditingkatkan melalui upaya kolaboratif.
Penutup
Sekolah Rakyat Terpadu 2 Banyuwangi tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar ilmu, tetapi juga menjadi simbol harapan bahwa melalui toleransi dan kerjasama, setiap mimpi dapat terwujud. Apakah model pendidikan seperti ini dapat menjadi inspirasi untuk sekolah-sekolah lain di Indonesia? Jawabannya mungkin terletak dalam komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih adil dan beragam.












