![[Di Balik Penurunan Peringkat BEI: Alarm Global untuk Ekonomi Domestik]](https://beritapusat.co.id/wp-content/uploads/2026/02/featured_1770965172672.jpg)
Pasar modal Indonesia tengah menghadapi fase turbulensi yang tidak bisa dipahami semata sebagai koreksi teknikal. Dalam beberapa pekan perdagangan dipenuhi tekanan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan memaksa otoritas bursa mengaktifkan trading halt, langkah darurat yang hanya ditempuh dalam kondisi volatilitas ekstrem.
Situasi tersebut diperparah oleh arus keluar dana asing yang signifikan. Investor global tercatat melakukan penjualan bersih saham senilai belasan triliun rupiah dalam waktu singkat. Dalam satu sesi, IHSG sempat terperosok lebih dari 10 persen secara intraday, dengan nilai transaksi melonjak tajam namun tidak mencerminkan akumulasi, melainkan kepanikan.
Gejolak ini mencapai titik simbolik ketika Direktur Utama BEI dan pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan serentak menyatakan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab moral. Keputusan tersebut, meskipun dimaksudkan untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar, justru menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi pasar modal Indonesia bersifat struktural, bukan insidental.












