
Dunia kerja kita sedang mengalami pergeseran tektonik yang sunyi namun mematikan. Bayangkan sebuah piramida organisasi yang puncaknya mulai kehilangan peminat. Di Indonesia, fenomena ini bukan lagi sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman nyata bagi keberlanjutan suksesi kepemimpinan nasional, baik di korporasi maupun birokrasi.
Generasi muda yang seharusnya mulai bersiap mengambil tongkat estafet, justru menunjukkan gelagat “mogok” massal. Mereka tidak lagi melihat kursi direktur atau manajer senior sebagai simbol kesuksesan. Sebaliknya, jabatan tinggi kini dipandang sebagai beban yang mengancam kesehatan mental dan kebahagiaan personal.
Data terbaru menunjukkan sebuah anomali yang mencemaskan. Meski Gen Z dan milenial diproyeksikan mendominasi 74 persen angkatan kerja pada 2030, hanya sekitar 6 persen dari mereka yang tertarik menduduki posisi pimpinan puncak atau C-level. Ini adalah sinyal merah bagi siapa pun yang peduli pada masa depan organisasi di negeri ini.












