Latar Belakang
Ramadan 1447 H tinggal menghitung hari. Di kalender, kita mungkin sibuk menandai kapan sidang Isbat digelar. Namun di akar rumput, masyarakat Jawa sudah lebih dulu menyalakan “radar” spiritual mereka lewat sebuah tradisi yang sudah eksis selama lima abad: ruwahan. Tradisi ini, warisan Walisongo, biasanya identik dengan nyadran, bersih-bersih makam, dan makan besar sebagai simbol syukur. Namun di balik itu semua, ruwahan ternyata menyimpan makna lebih dalam yang relevan dengan krisis lingkungan global saat ini.
Ekoteologi: Solusi Agama untuk Krisis Bumi
Ruwahan bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga contoh nyata dari ekoteologi, pendekatan yang menggabungkan agama dan lingkungan untuk menyelesaikan masalah bumi. Menurut Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, ekoteologi adalah solusi nyata untuk masalah lingkungan melalui perspektif agama, bukan sekadar teori di atas kertas. Dengan memberikan perhatian pada aspek spiritual, ruwahan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap alam sekitar.
Dampak Sosial dan Global
Tradisi ruwahan menunjukkan bahwa agama bukan hanya tentang doa dan ibadah, tetapi juga tentang kewajiban melindungi ciptaan Tuhan. Dengan semakin parahanya krisis lingkungan, ruwahan menjadi contoh inspiratif bahwa solusi global bisa berasal dari tradisi lokal. Melalui pendekatan ini, masyarakat Jawa tidak hanya merenungkan Ramadan, tetapi juga berperan aktif dalam menyelamatkan bumi.
Penutup
Ramadan dan ekoteologi ruwahan adalah bukti bahwa tradisi lama bisa memberikan jawaban untuk masalah modern. Dengan menjiwai makna ruwahan, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga ikut andil dalam menyelamatkan bumi untuk generasi mendatang.
