
Rusia Diduga Bunuh Navalny dengan Racun Katak Langka, Inggris Sebut ini Penggunaan Senjata Kimiawi
Inggris menyatakan bahwa alexei navalny, pemimpin oposisi Rusia, meninggal karena racun epibatidine yang dikembangkan dari racun katak panah beracun. Racun ini diklaim sangat langka dan hanya pemerintah Rusia yang memiliki kapasitas untuk menggunakannya.
Latar Belakang
Navalny, yang tewas di koloni penjara Siberia dua tahun lalu, menjadi sorotan internasional setelah Inggris dan sekutuannya menyalahkan Rusia atas kematianannya. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan bahwa hanya Rusia yang memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk menggunakan racun tersebut.
Fakta Penting
Analisis sampel dari tubuh Navalny menemukan adanya racun epibatidine, yang dikatakan tidak memiliki penjelasan lain keberadaannya. Meskipun Moskow menolak temuan ini sebagai “kampanye informasi,” Inggris tetap menegaskan bahwa bukti-bukti menunjukkan keterlibatan Rusia.
Dampak
Insiden ini meningkatkan ketegangan antara Rusia dan Barat. Penggunaan racun langka ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap larangan senjata kimia internasional. Masyarakat internasional menantikan tanggapan lebih lanjut dari pihak Rusia dan langkah yang akan diambil Inggris serta sekutu-sekutunya.
Penutup
Kematian Navalny bukan hanya tragedi bagi oposisi Rusia, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan kewenangan pemerintah Rusia. Bagaimana respons internasional terhadap klaim ini akan menjadi uji coba bagi komitmen dunia terhadap hukum internasional dan demokrasi.










