
Peristiwa meninggalnya seorang bocah sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ramai diberitakan di media sosial, dengan dugaan latar belakang kekecewaan karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis, menyentak kesadaran publik. Tragedi ini kerap dibaca secara sederhana sebagai potret kemiskinan ekstrem. Namun, jika dilihat dari perspektif kebijakan publik, peristiwa tersebut merefleksikan persoalan yang jauh lebih struktural dan kompleks.
Dalam kajian kebijakan sosial, kemiskinan ekstrem tidak hanya diukur dari ketiadaan pendapatan, tetapi juga dari akumulasi kerentanan: keterbatasan akses layanan dasar, tekanan psikologis dalam keluarga, serta minimnya dukungan sosial yang berkelanjutan. Pada anak-anak, kerentanan ini sering kali termanifestasi dalam bentuk beban mental yang tidak terlihat, namun sangat menentukan.
Penting untuk ditegaskan bahwa kasus ini tidak dapat disederhanakan sebagai akibat tunggal dari ketiadaan alat tulis. Alat tulis hanyalah pemicu permukaan dari tekanan sosial, psikologis, dan struktural yang lebih dalam. Oleh karena itu, respons kebijakan yang dibutuhkan bukan sekadar bersifat karitatif atau reaktif, melainkan sistemik.












